Hypermarket bukan lagi suatu ancaman kosong bagi pasar tradisional Indonesia. Kalau mau ditilik lagi, jumlah gerai pasar modern sangat besar ini pada tahun 2008 hampir mendekati angka 150-an, dengan gerai terbanyak dipegang oleh carrefour. Bagi yang tinggal di ibukota tercinta, Jakarta, carrefour bisa ditemui dimana-mana. Tak tanggung-tanggung, terdapat 19 gerai di Jakarta.
Tidak hanya carrefour, kehadiran hypermarket lain pun ikut mewarnai suasana perkotaan. Ada hypermart, Giant, dan Makro. Jaringan pasar besar ini bagaikan menghimpit konsumen maupun pasar tradisional secara besar-besaran.
Kehadiran hypermarket di tengah-tengah perkotaan saat ini bisa dibilang hampir tidak wajar. Sejatinya, hypermarket hanya perlu ada satu atau dua dalam satu kota atau wilayah. Kenapa? Hypermarket adalah pasar modern besar yang memiliki varian barang sangat luas. Mulai dari keperluan sehari-hari hingga barang elektronik, kendaraan, dan alat olahraga besar. Belanja pun tak perlu terlalu sering, karena sekali datang kita bisa belanja masal.
Tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya. Di kawasan Lebak Bulus misalnya, Carrefour dan Giant tidak malu-malu berhadapan satu sama lain. Konsumen tinggal menyebrang untuk ganti tempat belanja. Mau berjalan jauh sedikit? Mungkin anda akan menemukan gerai hypermarket yang lain.
Banyaknya hypermarket yang dibuka, seolah-olah membuat kita lupa akan kehadiran pasar tradisional di sekeliling kita. Kehadiran hypermarket pun sudah bisa dibilang melebihi kehadiran pasar tradisional dalam suatu kawasan. Hypermarket yang bertempat di gedung ber-ac, bersih dan lengkap telah menjadi saingan berarti bagi pasar tradisional. Harga yang bersaing juga semakin membuat pasar tradisional “kalah” di mata konsumen. Kontribusi pasar tradisional ke konsumen pun semakin menciut dengan semakin menjamurnya hypermarket. Belum lagi gosip tak sedap seputar pasar tradisional, mulai dari daging gelonggongan sampai produk kadarluarsa). Hal inilah yang kemudian semakin mengaburkan konsumen dari pasar tradisional. Sejatinya, memang tak ada konsumen yang mau ditipu bukan?
Konsumen jelas dimanjakan oleh kehadiran hypermarket. Segala kelebihan hypermarket adalah impian belanja konsumen yang terwujud. Kelebihan harga yang 100 atau 200 rupiah pun sudak tidak relevan untuk dipermasalahkan.
Tapi tak bisa dipungkiri, kehadiran hypermarket yang terlalu merajalela pelan-pelan akan mematikan pasar tradisional, jika terlalu berlebihan, kehadiran hypermarket juga akan menggerus keuangan konsumen. Sudah saatnya pemerintah memberikan batasan dan regulasi yang jelas bagi hypermarket. Jangan sampai pasar yang bagus ini malah mematikan pasar tradisional bersama wong cilik di dalamnya.
Sumber:
Gatra, Membendung Retail Raksasa Masuk Kampung, 4 Februari 2009
Swa, Cengkraman Hypermarket di Bisnis Ritel, 06/XXV/19 Maret – 1 April 2009
